Semut-Semut Sulaiman
Ia tidak mengerti sejak kapan semut-semut itu begitu senang mengerumuninya. Kali ini binatang kecil itu begitu lembut. Semut-semut itu merayap, menaikinya dari tumit kaki kanannya, mengular seakan arakan karnafal diatas sarung yang membalut separuh tubuhnya. Semut-semut itu bergegas menuju leher seorang pemuda kurus kering yang bernama Ahmad. Kali ini tak ada gigitan yang memerahkan kulit. Semut-semut itu hanya melewatinya, berjalan diatas kaki menuju leher Ahmad, kemudian pergi begitu saja.
Saat-saat kelelahan, Ahmad kerap meluangkan waktu barang sejenak diwaktu dhuha beranjak, merebahkan diri di Aula sepi Pondok Kulon Banon. Ia merasakan setiap datang beberapa semut, mengerumuninya yang menggigit seperti jarum menusuk, panas, gerah. Tapi ia tak pernah menghentakkan semut-semut itu, apalagi membunuh mereka.
Ahmad memahami cipataan-Nya yang mungil itu sedang mencari-cari remah makanan. Ia selalu menahan sakit, panas, penat yang dibawa sekolompok makhluk kecil itu sewaktu menjelajahi tubuhnya yang kurus, seperti kayu kering, kaku dan kuyu. Ia hanya bangun sebentar, menjumputi[1] satu persatu, lalu dipindahkannya agak jauh dari tempat istirahnya, jika dirasa semut-semut itu menggigit terlalu keras, menyisakan api kecil yang merembes keulu hati.
Alasan perlakuan lembutnya kepada makhluk paling mungil itu sempat ia ceritakan kepadaku, saat aku bertanya kepadanya, “ mad! kenapa tak kau libas saja semut-semut itu?”, tanyaku saat kami berdua mengepel teras ndalem abah[2]. Kami berdua tinggal dirumah beliau sebagai pembantu, mengabdi, menimba budi dan pekerti.
“nanti lama!, kalau nggak kau gilas secepatnya?” tambahku agak geram. Ia memandangku sejenak, sebelum jawabnya keluar, “ lebih baik aku mengepel lantai ini berhari-hari, dari pada aku harus membunuh makhluk kecil Tuhan ini. Mereka juga berhak hidup, menikmati jengkal tanah-Nya. Bukankah nyawanya tak kan pernah terhargai. Sugguh bodoh manusia yang tega membunuh, apalagi menyiksa salah satu makhluk ciptaan-Nya”. “Ini kan dharurat, kalau nggak cepat tamunya keburu datang”, timpalku, dengan gaya khas argumen santri. Ahmad tak menjawab, mengeluarkan alasannya yang kerap keramat.
Begitulah sifat dia, saat dihujam tanya logis temannya. Ia memilih diam saja. Seperti dikesehariannya, ia memang terkenal agak pendiam. Kalau satu pendapatnya yang memang menurut kami aneh-aneh itu ditolak teman-temannya, ia mencari jalan diam, membiarkan sang penanya, mencari jawab sendiri, karena ia rasa tak kan berguna memberi nasihat pada orang-orang yang berbeda paham pemikiran dengannya.
Hampir seratus persen teman-temannya, tak sejalur dengan pemikirannya dalam memandang realitas kehidupan ini. Aku saja yang sudah delapan tahun, menjadi kawan dekatnya, masih belum mampu memahami sikap, tindakan dan pemikirannya, yang nyleneh itu. kami biasa menyebut perilaku yang kerap dilakoninya dengan, istilah nyufi, ya kami memanggilnya, dipondok Kulon Banon Tercinta, dengan sebutan sok alim, wong sufi dan terkadang kami menjulukinya wali[3].
Perilaku anehnya lagi, ia kerap menyepi, kadang ditempat sunyi, seperti Pesarean[4] atau ruangan pondok yang nihil penghuni. Disitu dia hanya bersemadi, diam sambil berkata-kata tanpa suara, mirip biksu budha kalau sedang meditasi atau para penempuh Jalan kalau sedang berkhalwat[5].
“Orang kok jarang bermasyarakat!”, kata seorang temannya suatu ketika. “mau cari karamah ya!”, kata temannya yang lain saat melihat perilaku Ahmad yang menurut kebanyakan mereka dianggap nyleneh, aneh, orak ngumumi.
Omelan teman-temannya tidak merubah sikap dan perilaku Ahmad, ia enjoy saja dengan tingkah-polahnya yang dibilang nulayani adat[6] itu. Seperti saat istirah di Aula lantai tiga yang memang sepi penghuni itu, ia terlentang sejenak diwaktu dhuha, menunggu adzan tiba, melepas lelah karena sudah sedari pagi bekerja, memasak di dzalem Abah, membantu ibu nyai menyiapkan hidangan sarapan pagi.
Ia merasakan kembali adegan maha dahsyat makhluk Tuhan, berupa sekolompok semut itu. Tak seperti biasanya, ia tak perlu menjumputi satu persatu, memindah semut-semut kecil itu ketempat yang jauh dari tempatnya istirah atau memilih alternativ, ia menjumputi semut-semut kecil yang kerap menggigit, menyisakan lahar panas kecil itu dari pinggang, leher, lipatan siku dan bagian tubuh lainnya, mendaratkan mereka dilantai tempatnya istirah lalu ia pindah ke tempat lain yang sepi dari makhluk kecil itu.
Ia tak pernah lagi menahan panas gigitan semut-semut itu. Ia sudah seperti bapak bagi semut-semut kecil itu, seakan seseorang yang mendapatkan kehormatan, karena perilaku mulia dari Kerajaan Semut, seperti Sulaiman yang mendapat penghormatan langsung dari Kerajaan Semut, begitulah Ahmad saat ini. Ia istirah sendiri ditemani semut-semut itu.
Ia meraskan keanehan dengan perilaku semut-semut itu, ia membatin “mengapa arakan semut itu tak ada satupun yang menggigitku?”. Ia mendiamkan saja saat sekelompok semut menembus baju kumalnya, menyusuri pinggang dan mandeg di dadanya yang seperti triplek itu. Inikah kemah tempat munajat semut-semut itu. Inikah dada yang berdebar dalam hitungan dzikir menjadi lahan bermusyawarah Kerajaan Semut.
Ia membiarkan agak lama semut itu mangkal didadanya yang tertutupi selampir baju usang itu.Mungkin belum waktunya para semut, melakukan manuver instingnya. menggigit. Lama juga dia menunggu, menanti aksi normal para semut.
“Mengapa tak ada satupun juga semut-semut itu yang yang menggigitku?, aku harus membuka bajuku, biar kutahu hakekat semut-semut itu”, Ahmad membatin. Iapun menyingkap baju kumalnya, terlihatlah sekelebat panorama indah formasi zdikir para semut. Semut-semut itu membentuk lafadh Allah.
Masyaallah!. Ia terkejut bukan kepalang. Jantungya berdebar keras. Drama semesta itu terjadi sekejap pandang. Buyarlah semut-semut itu, setelah memperlihatkan Keindahan Asma-Nya tiada tara .
“aku tak mengira semut-semut itu mengerumuni dadaku hanya untuk memperlihatkan kepadaku Keindahan Asma-Nya”, Ahmad membatin. “mungkinkah mereka utusan Tuhan yang diperintah untuk mengujiku?” atau “Tuhan hendak mengabarkan lewat semut-semut itu, akan kepastian Karamah?”
“ah! aku tak mengerti mengapa semut-semut itu datang dengan perlakuan lembut, menyusuri tiap jengkal tubuhku dengan pijakan kaki yang halus, tanpa sedikitpun melukai bagian tubuhku, kemudian secara tiba-tiba, semut-semut itu memeperlihatkan kepadaku formasi Keindahan Asma-Nya”. Takjub. Heran, mengelayuti pikiran Ahmad.
Setelah kejadian itu ia mencoba merunut perilakunya terhadap semut-semut itu. Memang tak pernah sedikitpun ia melukai makhluk kecil Tuhan itu. Ia lebih memilih bergerah-gerah, berpindah-pindah, jika sekolompok semut menyatroninya, menyita sedikit perasaan senggangnya. Kadang tak segan beberapa semut itu menggigitnya sepenuh-penuh gigitan. Merah berdebum tubuhnya bekas gigitan sakti beberapa semut.
Tak ada rasa benci sedikitpun yang muncul dari hatinya akibat perilaku buruk sekelompok semut itu. Ia berpikir semut-semut, nyamuk, lalat-lalat adalah makhluk kecil Tuhan yang harus diperlakukan dengan lembut. Ia sengaja menaklukkan jiwa amarahnya dengan melakukan perilaku seperti itu. Ia selalu berpedoman pada hadist nabi “cintailah semua makhluk yang dibumi, maka semua makhluk yang dilangit akan mencintaimu”.
Ia memeperlakukan binatang-binatang sama seperti layaknya manusia. Ia memamg sangat toleran sekali dengan perilaku buruk sebagian binatang. Pernah ia membiarkan saja lalu-lalang beberapa lalat didepan wajahnya, sementara ia tertegun melihat temannya yang sudah menghabisi berpuluh makhluk tak bersalah itu. Pernah juga ia menahan diri dari dengung nyamuk yang mendekati kupingnya. Ada sih keinginan untuk menangkap, lalu plek, membunuhnya. Tapi ia tidak melakukan semua itu. Ia lebih memilih mengorbankan kenyamanan sementara dirinya, demi meraih cinta semesta bahkan Cinta-Nya.
Ahmad mulai berpikir lain, mungkinkah karamah itu terulang. Ah! karamah itu terus berjalan, ia bukan hilang. Hanya saja bilangannya yang berkurang. Ia ingat dengan karamah-karamah para wali yang mampu mendatangkan berbagai keajaiban, al-mawruri, al-syakkaz, al-qaththan adalah sederet nama waliyyullah, sebagai pemilik keajaiban spiritual yang diceritakan Syaikhul Al-kabir Ibnul ’Arabi didalam kitab karangannya, Ruhul Al-quds yang pernah dibacanya. Adakah kini keajaiban itu harus menghampiriku. Itukah karamah, berkah perilakuku terhadap semut-semut kecil itu.
“Aku ini siapa” pekiknya. Aku hanya seorang biasa yang masih mencoba memahami Peta Jalan mereka, aku belum menjadi Penempuh, Pendaki, Salik Jalan Kebenaran Mereka. Mereka sudah mencapai maqam Cinta kepada-Nya, sementara aku baru sebatas memandangi Cinta-Nya saja. Mereka sudah merasakan pahit-getir bersama-Nya, sedangkan aku masih terus saja melupakan-Nya.
Karamah itukah yang kulihat atau peringatan agar aku tetap selalu menjaga Cinta Semesta, juga Cinta-Nya.
Ahmad seperti biasa melakukan istirah ditempat yang sama, ia memang sengaja menanti datangnya semut-semut itu lagi, menyusuri tubuhnya yang kurus kering, berharap kembali ia menemukan titik terang jawaban dari peristiwa singkat maha dahsyat kemarin. Sebuah formasi dari sekolompok semut yang membentuk lafadh Allah, bertuliskan kaligrafi arab yang menakjubkan dan mengagetkannya.
Tak lama ia merebahkan badannya, ia merasakan kaki kanannya sudah dipenuhi arakan semut-semut kecil itu. Ia merasakan sekelompok semut itu berkumpul di atas dengkul. Ia tak tahu kejutan apalagi yang akan di perlihatkan oleh sekolompok semut itu kepadanya. Ia berpikir tak mungkin sekelompok semut itu akan membentuk formasi ajaib Asma-Nya lagi. Ini bukan zamannya walisongo, para sufi agung atau para nabi suci yang begitu mudah dan seringnya kejadian luar biasa merealita didunia mata. Ini zaman edan, manusia sudah banyak yang melupakan Tuhan, meningglkan perintah-Nya, melakukan kemungkaran tak terkira.
“Akupun sendiri tak jauh beda”, ia berpikir. Masih terlalu kecil penghambaanku pada-Nya. Aku masih selalu menjadi hamba bagi nafsu liarku. Sesaat pikiran Ahmad berhenti, ia meraskan ada makhluk aneh menyusuri paha kanannya yang terbalut celana bekas itu. Dadanya berdegup keras, makhluk sebesar empat kali semut-semut kecil itu, berjalan lambat. Mungkinkah ia laba-laba atau semut besar atau mungkin raja semut. Makhluk asing itu, ia rasa telah sampai didadanya. Makhluk asing itu keluar dari dadanya yang seperti triplek, lalu berhenti dilehernya.
Makhluk asing yang ternyata semut berukuran jumbo itu berbicara kepadanya, ia berkata “wahai Ahmad, jangan takut!, aku juga mahkluk Tuhan, sama sepertimu. Aku diperintah oleh Raja Kerajaan Semut untuk menyampaikan seucap kata terima kasih, karena engkau telah berbuat baik kepada makhluk-makhluk kecil dari golongan kami. Kasihmu yang tak terperi, sayangmu yang tak berpeduli telah menarik Sang Raja untuk menyatakan kehormatan kedua setelah Nabi Sulaiman. Semoga perbuatanmu yang mencintai golongan kami, mampu menggetarkan Sang Pemilik Kerajaan Langit menurunkan rahmat diatasmu. Amien”.
Ahmad terbengong, ia diam, tak mampu berkata, pikirannya hampa, kosong, ia hanya melihat Sang Utusan Raja dari Kerajaan semut itu ghaib entah kemana. “Benar nyatakah itu atau hanya ilusi pikirannku?”, ia menghati. Iapun tertidur berharap nanti bangun untuk kembali bersaksi pada Ilahi. Adzan dhuhurpun berkumandang, Allahu Akbar Allahu Akbar. Kulon Banon, 15 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar