Santri dan para pencari ilmu yang lain, tidak bisa dilepaskan dari kegiatan belajar. Belajar merupakan aktifitas yang dilakukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Salah satu aktivitas belajar yang populer dikalangan santri adalah mengaji. Setiap hari para santri tidak bisa menghindar dari kegiatan mengaji. Belajar yang dilakukan oleh santri dengan menyemak atau mendengarkan paparan ilmu yang disampaikan oleh seorang kyai atau ustadz, itulah model mengaji bandongan, yang hampir meratai model pengajaran pesantren, dimana guru aktif menyampaikan materi, sedangkan para murid mendengarkan tanpa respon balik dengan mengajukan pertanyaan ataupun mengkritisi pemahaman sang guru setelah pengajian selesai.
Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari model pengajian seperti ini. Menurut penulis, sikap kritis yang seharusnya ditumbuhkan sejak dini, sejak dimana seseorang menimba ilmu diusia muda, menjadi tak berkembang, karena model pengajaran yang tidak memberikan ruang sama sekali bagi murid untnk bertanya, meragukan pengetahuan yang mungkin untuk diragukan. Dialog kritis yang mampu menambah pemahaman dan kecerdasan akal didalam menimbang menjadi beku, stagnan bahkan mati.
Model pengajaran seperti itu tidak berpengaruh radikal didalam membentuk pemahaman santri, lebih-lebih perilakunya. Ini terlihat dari mudahnya pengetahuan yang telah disampaikan sang guru, hilang dari pemikiran mereka. Mengaji dilaksanakan hanya memenuhi tuntutan pangurus dan sekedar rutinitas yang kering, tanpa hasil memuaskan yang mampu memperkaya pemikiran, menyadarkan hati dan akhirnya merubah perilaku pengaji.
Untuk mensiasati kelemahan model pengajian bandongan, penulis mengajukan kepada para santri, para pencari ilmu keagamaan, untuk mempraktekan beberapa kiat-kiat praktis yang bisa mengoptimalkan capaian ilmu pengetahuan dimadrasah bandongan itu. Pertama, buatlah pertanyan dari penyampaian materi sang guru. ini bisa dilakukan jika sang guru, memberi peluang waktu bertanya kepada para santri. Pertanyaan mutlak diperlukan, karena ia mampu mengurai kekurangan dan kekeliruan pemahaman tehadap materi yang disampaikan. Pertanyaan adalah wujud dari peran aktif santri. Inilah yang membedakan antara mengaji dengan mengkaji.
Kedua, bentuklah kelompok diskusi kecil, membahas materi pengajian yang telah disampaikan sang guru. Bisa dilakukan bersama teman sekamar atau teman akrab yang mudah diajak bermusyawarah. Diskusi tentang materi pengajian yang telah disampaikan akan menguatkan ingatan terhadap materi. Diskusi mampu melatih berfikir kritis, dengan mampertanyakan pendapat sang guru ataupun membandingkannya dengan ulama lain. Diskusi mengharuskan santri bukan sekedar megaji, mendengarkan pengajian, setelah itu melepaskan kitab, membiarkan begitu saja ilmu yang didapat, menguap ditelan oleh kebekuan berfikir alias kemalasan mengkaji lagi ilmu yang telah diperoleh dengan mendiskusikannya. Inilah perbedaan kedua antara megaji dan mengkaji.
Ketiga, kiat yang terakhir adalah menuliskan kembali, materi yang telah disampaikan sang guru. Menulis menuntut kemampuan seseorang dalam meruntutkan sebuah ide. Dari kegiatan ini santri akan mencoba mengingat kembali materi, membuat hubungan-hubungan logis dari materi yang telah disampaikan. Menulis mengaktifkan kemampuan berbahasa, berfikir dan bagaimana membuat susunan kalimat yang mudah dipahami. Menulis mengharuskan pengaji berinteraksi aktif dengan materi pengajian, menimbang materi, membuat catatan, bahkan ia bisa menolak pendapat sang guru, jika memang ia mampu mendatangkan pembanding yang lebih benar. Inilah perbedaan ketiga antara Mengaji dan Mengkaji.
Aktifitas mengaji yang kita lakukan sehari-hari, sudah merupakan kebaikan tersendiri, asalkan aktifitas itu kita lakukan dengan sepenuh hati, seluruh cinta dan tentunya semata mencari Ridha-Nya. Tetapi itu saja belum cukup. kita harus mengevaluasi, meneliti kembali, apakah aktifitas mengaji yang telah kita lakukan, memenuhi target yang seharusnya dicapai?. Sudah berapakah kemampuan kita dalam memahami materi yang diajikan?. Seberapa banyak ingatan-ingatan yang kita miliki terhadap materi yang disampaikan Sang Guru?. Sudahkah cakrawala pemikiran kita meluas, lalu menyadarkan kita akan kehidupan ini?. Mengaji saja belum cukup! Santri harus mengkaji, berinteraksi aktif degan pemikiran sang guru, kitab-kitab yang dipelajari. Pengkajian bisa berhasil, Insyaallah dengan menjalankan 3 kiat yang ditawarkan penulis diatas. Selamat mengaji dan mengkaji. Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar